Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan

Untukmu yang Sedang Berjuang Menjadi Ibu, Inilah 5 Hal yang Pantas Disyukuri!

1/14/2016


Hidup ini tidak pernah lepas dari kata perjuangan, terlebih bagi seorang ibu. Bagi seorang ibu, perjuangan adalah nafas hidupnya. Setiap waktu adalah perjuangan mendidik buah hati menjadi pribadi yang istimewa. Pribadi yang selalu dirindukan di manapun ia berada. Disebabkan ia memiliki karakter unggul hasil didikan seorang ibu yang luar biasa.

Jika Anda adalah salah satu dari wanita yang sedang berjuang menjadi ibu, berbahagialah! Sebab, di antara kerepotan, ketidaknyamanan, dan segala kesulitan menjadi ibu, ada banyak hal yang pantas disyukuri. Apa saja itu?

Bersyukurlah, Sebab di Luar Sana Masih Banyak yang Merindukan Predikat Seorang Ibu.
Ya, tidak semua wanita bisa meraih predikat sebagai seorang ibu. Banyak yang masih berjuang untuk meraih predikat itu. Sebagian dari mereka belum menemukan jodoh yang tepat yang merupakan gerbang menuju predikat itu. Sebagian yang lain tak kunjung dikaruniai buah hati. Sementara, Anda sudah menjadi perempuan sempurna dengan predikat seorang ibu. Lalu, nikmat Tuhan yang mana lagi yang pantas didustakan? Diantara kata perjuangan menjadi seorang ibu kita pantas bersyukur. memberi kita predikat yang sangat mulia sebagai seorang ibu. Meski harus melewati rasa tidak nyaman saat mengandung dan rasa sakit saat melahirkan, semua akan terbalas dengan rasa bahagia saat mendapat predikat sebagai seorang ibu. Berbahagialah, kamu sudah menjadi wanita yang beruntung, wanita yang sempurna. Sebab, tidak semua wanita yang bisa memperoleh gelar itu.
Kerepotan Itu hanya Sementara dan Berbuah Pahala


Kata perjuangan bagi seorang ibu muda selalu identik dengan kerepotan. Saat anak masih bayi, seorang ibu direpotkan dengan urusan popok, ASI, hingga kerewelan si buah hati yang tak kenal waktu. Tidak jarang sang ibu harus bangun dini hari hanya untuk memastikan buah hati nyaman, meski harus mengesampingkan kenyamanan diri sendiri. Bertambahnya usia buah hati bukan berarti kerepotan seorang ibu berkurang. Kata perjuangan itu belum berhenti. Ibu akan dihadapkan pada kerepotan demi kerepotan lain yang berbeda wujud saja. Sebab, anak butuh proses untuk mempelajari berbagai hal hingga mereka bisa mengurus diri mereka sendiri. Untuk menuju ke sana dibutuhkan kesabaran seorang ibu untuk melayani dan mendidik anak hingga mandiri.

Di sinilah kata perjuangan seorang ibu diuji. Kerepotan demi kerepotan menghiasi hari dari demi hari. Namun, wahai ibu, bersabarlah! Sebab, semua kerepotan itu hanya sementara dan berbuah pahala. Keikhlasan menjadi seorang ibu adalah ibadah di sisi Tuhanmu.
Setiap Polah Ananda Selalu Membuatmu Bahagia

Kata perjuangan seorang ibu bukanlah melawan musuh di medan perang melainkan kesungguhan untuk mendidik buah hati menjadi generasi unggul. Bekalnya adalah sabar, ilmu, dan kesungguhan. Tidak ada yang lebih indah selain perjuangan menjadi seorang ibu. Sebab, hari-harinya selalu dihiasi dengan tawa canda dan tingkah polah ananda yang mampu melukis bahagia di hati.
Allah pun Menitipkan Kunci Surga-Nya Padamu

Berbahagialah menjadi seorang ibu. Sebab, predikat ini bukan hanya sebatas kata perjuangan. Allah memberi kemuliaan dan kedudukan yang tinggi bagi seorang ibu. Semua rasa sakit, ketidaknyamanan, dan kerepotan yang dirasa akan diganti Allah dengan kemuliaan berlipat. Allah meninggikan derajat seorang ibu tiga tingkat dibanding ayah. Allah juga memberi kehormatan pada seorang ibu dengan menitipkan kunci surga bagi anak-anak di tangannya.
Dahsyatnya Doa dari Lisanmu yang Akan Selalu Dirindu

Seorang ibu adalah sosok yang selalu dirindukan oleh anak-anaknya. Bukan hanya sosok dan kata perjuangannya yang tak pernah putus. Akan tetapi, untaian doa tulus dari lisan seorang ibu. Setiap kata yang keluar dari mulitnya adalah senjata dahsyat yang selalu dirindukan oleh buah hati. Untukmu yang sedang berjuang menjadi ibu. Berbahagialah menjadi seorang ibu. Sebab, banyak hal yang pantas kita syukuri sebagai seorang ibu. Ibu adalah profesi mulia yang dianugerahkan Allah pada wanita. Di sana ada kata perjuangan dan pengorbanan. Namun, di balik semuanya akan berbalas pahala, kebahagiaan, dan kemuliaan. Tidakkah kita berbangga dengan semua itu?

Jeritan Hati Seorang Wanita "Dulu Aku Pernah Merasakan Bahagianya Pernikahan"

1/08/2016

Kutulis kisah ini untuk segenap muslimah. Meskipun dengan menulisnya, hatiku semakin teriris-iris. Namun biarlah luka itu menganga, asalkan kalian tidak menjadi korban berikutnya.

Dulu� aku pernah merasakan bahagianya pernikahan. Aku mencintai suamiku, dia pun mencintaiku. Meskipun hidup pas-pasan, rumah tangga kami diliputi kedamaian. Suamiku orang yang pekerja keras. Ia berusaha mendapatkan tambahan penghasilan untuk bisa ditabung seiring Allah mengkaruniakan seorang buah hati kepada kami. Kami pun berusaha hidup qanaah, mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas kami.

Saat-saat paling membahagiakan bagi kami adalah ketika malam hari. Saat sunyi dini hari, anakku lelap dalam tidurnya, aku dan suami bangun. Kami shalat malam bersama. Suamiku menjadi imam dan aku larut dalam bacaan Qur�annya. Tak jarang aku menangis di belakangnya. Ia sendiripun juga tak mampu menahan isak dalam tilawahnya.

Entah mengapa. Mungkin karena kami melihat teman-teman yang telah punya mobil baru. Tetangga yang membangun rumah menjadi lebih indah. Mulai terbersit keinginan kami agar uang kami semakin bertambah. Suamiku tak mungkin bekerja lebih lama karena ia sudah sering lembur untuk menambah penghasilannya. Tiba-tiba aku tertarik dengan bisnis saham. Sebenarnya aku tahu sistem bisnis ini mengandung riba, tapi entahlah. Keinginan menjadi lebih kaya membutakan mataku.

�Ambil bisnis ini saja, Mas. Insya Allah kita bisa lebih cepat kaya,� demikian kurang lebih saranku pada suami. Dan ternyata suamiku juga tidak menolak saran itu. Ia satu pemikiran denganku. Mungkin juga karena tergoda oleh rayuan iklan bisnis saham tersebut.

Akhirnya, kami membeli saham dengan seluruh tabungan yang kami miliki. Suamiku mengajukan kredit untuk modal usaha kami. Sejumlah barang yang bisa kami jual juga kami jadikan modal, termasuk perhiasan pernikahan kami.

Beberapa pekan kemudian, bisnis kami menunjukkan perkembangan meskipun tidak besar. Kami mengamati saham hingga ibadah-ibadah sunnah yang dulunya membahagiakan kami mulai keteteran. Tilawah tidak sempat. Shalat sunnah hilang diterpa kantuk dan lelah. Hidup mulai terasa gersang di satu sisi, tetapi kekayaan mulai tergambar di sisi lain.

Hingga suatu hari, tiba-tiba harga saham menurun drastis. Kami seperti terhempas dari ketinggian. Kami sempat berharap bisa bangkit, tetapi harga saham kami justru semakin terpuruk. Hutang kami semakin menumpuk. Cash flow keluarga kami berantakan.

Di saat seperti itu, emosi kami seperti tidak terkendali. Ada sedikit saja pemicu, aku jadi marah. Pun dengan suami. Ia jadi sering menyalahkanku karena menyarankan bisnis riba dengan modal riba pula. Aku pun membela diri dan mengatakan kepadanya, mengapa sebagai suami yang harusnya jadi imam malah mengikuti saran istri jika saran itu keliru. Pertengkaran memuncak. Aku tidak dapat menguasai diri.

�Kalau begitu, ceraikan saja aku,� kataku malam itu.
�Ya, aku ceraikan kamu,� jawab suami dengan nada tinggi. Mendengar teriakan talak itu aku terhentak. Aku menangis. Anakku juga menangis. Tapi terlambat. Suamiku terlanjur pergi setelah itu.

Kini aku harus membesarkan anakku seorang diri. Sering sambil menangis aku membaca ayat:

???????? ??????? ???????? ????????? ????????????�
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah� (QS. Al Baqarah: 276)

Wahai para muslimah� qana�ah� qana�ah� Jangan menuntut suamimu lebih dari kemampuannya. Tak ada larangan untuk berusaha bersama-sama agar kondisi finansial menjadi lebih baik. Tetapi jangan sekali-kali terperosok dalam bisnis riba. Bahagia dalam hidup sederhana lebih baik daripada jiwa menderita karena cinta dunia.

Cukuplah aku yang berkata sambil menangis, �Dulu kami dipersatukan oleh ketaatan kepada Allah, lalu kami dipisahkan oleh kedurhakaan pada-Nya� 

*Diadaptasi dari kisah nyata dalam Sa�atan-Sa�atan yang ditulis Syaikh Mahmud Al Mishri dan Sirriyun lin Nisa� yang ditulis Syaikh Ahmad Al Qaththan